Ormawa FEBI Kunjungi PT Astra Honda Motor


SEMARANG – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga melaksanakan kunjungan ke PT Astra Honda Motor dengan mengangkat tema “Secangkir Kopi Sejuta Mimpi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 19 September 2026, bertempat di Astra Motor Safety Riding Center Jawa Tengah, Semarang, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai.

 

Kegiatan ini turut dihadiri oleh peserta dari UIN Walisongo Semarang dan SMK binaan Astra yang mengikuti rangkaian kegiatan pada sesi seminar. Kehadiran berbagai peserta tersebut turut menambah suasana diskusi dan memperluas interaksi antarpeserta dalam kegiatan.

 

Kegiatan menghadirkan tiga pemateri dari berbagai bidang, yaitu Bapak Ipda Khoirun Nasirin, S.H., M.H., selaku Kasubnit Kamsel Polrestabes Semarang, Bapak Arfi Indra, barista dari Semua Ruang & Lautan Aroma Nusantara, serta Bapak Muhammad Ali Iqbal, selaku Supervisor Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah. Kegiatan dipandu oleh Anisa Dwi Saputri, Ketua Umum HMPS Ekonomi Syariah, yang bertindak sebagai moderator.

 

Pada sesi pertama, Bapak Ipda Khoirun Nasirin, S.H., M.H. menyampaikan materi mengenai peraturan lalu lintas serta angka kecelakaan yang terjadi di wilayah Semarang dalam tiga bulan terakhir. Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya menaati aturan lalu lintas dan meningkatkan kesadaran dalam berkendara.

 

Selanjutnya, Bapak Arfi Indra selaku barista memberikan pemaparan mengenai dasar-dasar penggunaan mesin kopi. Peserta diperkenalkan dengan cara menggunakan mesin kopi serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyajian kopi.

 

Sementara itu, Bapak Muhammad Ali Iqbal menyampaikan materi mengenai keselamatan berkendara, khususnya bahaya mengantuk saat berkendara dan persiapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan perjalanan. Peserta diberikan pemahaman bahwa kondisi pengendara maupun kesiapan kendaraan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama berkendara.

 

Setelah sesi seminar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan praktik berkendara yang baik dan benar yang dipandu oleh Bapak Burhan Setianu, selaku Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah. Pada sesi praktik ini, peserta dari UIN Walisongo Semarang dan SMK binaan Astra tidak mengikuti rangkaian praktik, sehingga sesi tersebut difokuskan kepada peserta kunjungan dari HMPS Ekonomi Syariah dan Ormawa FEBI UIN Salatiga.

 

Dalam praktik tersebut, peserta mendapatkan pengalaman secara langsung mengenai teknik berkendara yang aman dan benar sesuai dengan arahan instruktur. Peserta juga dapat memahami pentingnya kesiapan sebelum berkendara serta penerapan keselamatan dalam situasi berkendara sehari-hari.

 

Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan wawasan yang beragam, mulai dari dunia kopi hingga edukasi mengenai lalu lintas dan keselamatan berkendara. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat bagi mahasiswa serta memperluas relasi antara mahasiswa, institusi pendidikan, dan dunia industri.

 

HMPS Ekonomi Syariah Gelar PBAK Prodi, Sambut Mahasiswa Baru 2026


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tingkat program studi bagi mahasiswa baru angkatan 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026, bertempat di Aula FEBI Gedung KH. Zubair Umar Al Jailani, Kampus 3 UIN Salatiga. 


Mengusung tema “Membangun Generasi Ekonom Muda yang Inovatif dan Berkelanjutan melalui Kolaborasi Kebijakan Publik dan Inovasi Bisnis Berbasis Triple Bottom Line". Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian PBAK mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi. PBAK prodi menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik, program studi, serta organisasi kemahasiswaan di Ekonomi Syariah. 


Kegiatan diawali dengan pengenalan HMPS Ekonomi Syariah. Mahasiswa baru diperkenalkan dengan kepengurusan HMPS sekaligus berbagai program kerja yang dijalankan selama satu periode. Pengenalan disampaikan oleh Badan Pengurus Harian (BPH), kemudian dilanjutkan oleh masing-masing divisi, yaitu Divisi HRD, Divisi RE, Divisi Advokesma, Divisi Creativepreneur, dan Divisi Media Kreatif. 


Antusiasme mahasiswa baru terlihat selama sesi pengenalan berlangsung. Selain mendapatkan gambaran mengenai organisasi, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mengetahui berbagai kegiatan yang dapat menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan berkontribusi selama berada di lingkungan Program Studi Ekonomi Syariah. 


Selanjutnya, mahasiswa baru mendapatkan pengenalan keprodian dan sosialisasi Kurikulum Outcame Based Education (OBE) yang disampaikan oleh Kepala Program Studi Ekonomi Syariah, Ibu Emy Widyastuti, M.E. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan mengenai ruang lingkup Program Studi Ekonomi Syariah, hal-hal yang perlu dipersiapkan selama menjalani perkuliahan, serta gambaran alur studi pada setiap semester. 


Mahasiswa baru juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun dasar keilmuan ekonomi syariah sejak awal perkuliahan. Bekal tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis. 


Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab, penyerahan sertifikat, dan foto bersama. Seluruh rangkaian PBAK Prodi Ekonomi Syariah berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. 


Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya mengenal lingkungan akademik dan organisasi di Program Studi Ekonomi Syariah, tetapi juga mulai memahami arah studinya serta mempersiapkan diri untuk menjadi generasi ekonom syariah yang berintegritas, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. 

 

Kebakaran Hutan Kalimantan dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Masyarakat


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion dengan tema “Kebakaran Hutan Kalimantan dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Masyarakat” pada Senin, 31 Agustus 2026, pukul 15.00 WIB hingga selesai. Kegiatan bertempat di samping Masjid FEBI Kampus 3 UIN Salatiga.

 

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dengan Zahrotunnisa Nur Habibah, anggota Divisi Research and Education (RE), sebagai pemantik dan Viola Endin sebagai moderator.

 

Diskusi membahas fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang kembali menjadi perhatian sepanjang 2026. Pembahasan tidak hanya melihat karhutla dari sisi lingkungan, tetapi juga mengkaji dampaknya terhadap kesehatan, aktivitas ekonomi, produktivitas, pendapatan, serta kehidupan masyarakat.

 

Dalam diskusi disampaikan bahwa karhutla di Kalimantan merupakan persoalan yang telah berulang dalam sejarah. Salah satu kebakaran besar terjadi pada 1982–1983 ketika jutaan hektare hutan di Kalimantan Timur terbakar. Peristiwa serupa kemudian kembali terjadi pada berbagai periode, terutama ketika kondisi iklim dan pengelolaan lahan meningkatkan risiko kebakaran.

 

Memasuki 2026, kondisi karhutla kembali mendapat perhatian seiring datangnya El Niño dengan intensitas kuat. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla nasional pada Januari–Juli 2026 mencapai sekitar 202 ribu hektare. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan luasan karhutla terbesar, mencapai 28.216,31 hektare hingga Juli 2026.

 

Angka tersebut terus meningkat di sejumlah wilayah setelah memasuki Agustus. Di Kalimantan Barat, BPBD mencatat luas karhutla mencapai 38.310,86 hektare sejak Januari hingga Agustus 2026. Sementara di Kalimantan Tengah, berdasarkan analisis citra satelit Kementerian Kehutanan, estimasi luas areal terbakar hingga 21 Agustus mencapai 7.634,46 hektare.

 

Diskusi juga menyoroti penyebab karhutla. Kondisi cuaca kering dan El Niño dapat memperbesar risiko serta mempercepat penyebaran api, terutama pada lahan gambut yang kering. Namun, faktor manusia seperti pembukaan dan pengelolaan lahan juga menjadi persoalan penting. Oleh karena itu, karhutla tidak dapat hanya dipandang sebagai bencana alam, tetapi juga sebagai persoalan tata kelola lingkungan dan aktivitas ekonomi.

 

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah kebakaran yang terjadi di wilayah berizin atau area konsesi. Pada Agustus 2026, pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap 19 perusahaan yang ditemukan memiliki kebakaran di area konsesinya dengan total luasan mencapai 11.047 hektare. Kementerian Kehutanan juga menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan terkait kebakaran pada areal yang mereka kelola dengan total luasan 1.511,55 hektare di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

 

Dari sisi perekonomian, dampak karhutla dirasakan oleh berbagai sektor. Aktivitas perdagangan, pertanian, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dapat terganggu akibat asap dan menurunnya aktivitas masyarakat. Bahkan, kajian CELIOS memperkirakan total biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari–Agustus 2026 berada pada kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.

 

Dampak kesehatan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga 27 Agustus 2026, karhutla telah berdampak pada lebih dari 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi. Tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif, sementara 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk menangani dampak kesehatan di wilayah terdampak.

 

Dalam penanganannya, pemerintah telah melakukan berbagai langkah, mulai dari pemantauan titik panas, patroli, pemadaman darat, pengerahan Manggala Agni, operasi modifikasi cuaca, hingga penggunaan pesawat untuk pemadaman udara. Pemerintah juga memberikan izin khusus kepada 35 pesawat asing dari delapan negara untuk membantu operasi penanganan karhutla di Kalimantan karena kebutuhan sarana pemadaman udara belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri.

 

Dari diskusi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa bahwa karhutla di Kalimantan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan, pekerjaan, pendapatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karhutla perlu ditangani melalui pencegahan, pengawasan lahan, penegakan hukum, serta tanggung jawab pihak yang menyebabkan kerugian, agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan masyarakat dan lingkungan.

 

HMPS Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga Gelar PBAK Prodi Sambut Mahasiswa Baru 2026



SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tingkat program studi bersama mahasiswa baru angkatan 2026, Kamis (20/8/2026), di Aula FEBI UIN Salatiga. Kegiatan ini mengusung tema "Membangun Generasi Ekonom Muda yang Inovatif dan Berkelanjutan melalui Kolaborasi Kebijakan Publik dan Inovasi Bisnis Berbasis Triple Bottom Line" dan menjadi bagian dari rangkaian PBAK, mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi, guna mengenalkan mahasiswa baru pada lingkungan program studi beserta kepengurusan organisasinya.

 

Kegiatan dibuka dengan pengenalan HMPS, mulai dari perkenalan pengurus hingga pemaparan program kerja. Sesi ini disampaikan secara berjenjang, dimulai dari Badan Pengurus Harian (BPH), lalu dilanjutkan oleh masing-masing divisi, yakni Divisi HRD, Divisi RE, Divisi Advokesma, Divisi Creativepreneur, dan Divisi Media Kreatif. Antusiasme mahasiswa baru terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung.

 

Memasuki sesi berikutnya, Ibu Emy Widyastuti, M.E., selaku Kepala Program Studi Ekonomi Syariah, memberikan pengenalan keprodian sekaligus sosialisasi Kurikulum OBE. Dalam pemaparannya, Ibu Emy menjelaskan ruang lingkup Program Studi Ekonomi Syariah, bekal yang perlu disiapkan mahasiswa selama menempuh perkuliahan, hingga gambaran alur studi di setiap semester agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu. Beliau juga menekankan pentingnya membangun pemahaman dasar ekonomi syariah sejak awal, mengingat mahasiswa akan menjadi generasi yang dituntut mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

 

Rangkaian PBAK prodi ditutup dengan sesi tanya jawab, penyerahan sertifikat, serta foto bersama. Seluruh kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme, sekaligus diharapkan menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru untuk lebih mengenal lingkungan akademik maupun organisasi kemahasiswaan di Program Studi Ekonomi Syariah UIN Salatiga

 

PRESS RELEASE


Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia.


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion pada Minggu, 26 Juli 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai secara daring melalui Google Meet. Kegiatan ini mengangkat tema "Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia."

 

Diskusi dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dengan Lukman Adiansah, anggota Divisi Research and Education (RE), sebagai pemantik diskusi serta Agus Mizan sebagai moderator. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan membahas berbagai dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap harga pangan, kesejahteraan petani, serta stabilitas ekonomi.

 

Pada sesi pemaparan, Daffa, Koordinator Divisi HRD, menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong kesejahteraan petani dan peternak melalui peningkatan permintaan bahan pangan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Sandra, anggota Divisi Advokesma, yang menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada tata kelola distribusi bahan pangan yang transparan serta pengawasan yang ketat agar terhindar dari praktik korupsi yang dapat merugikan negara.

 

Menanggapi hal tersebut, Arozi, anggota Divisi HRD, menyampaikan bahwa pemerintah juga perlu memperhatikan skala prioritas dalam pelaksanaan program. Menurutnya, selain memastikan Program MBG berjalan optimal, pemerintah perlu memperbaiki sarana pendidikan yang masih rusak serta memastikan penerima manfaat benar-benar tepat sasaran, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

 

Dalam diskusi juga dibahas fenomena perubahan harga bahan pangan ketika kegiatan sekolah dan Program MBG memasuki masa libur. Sandra, Lukman, dan Rizal, anggota Divisi Creativepreneur, menjelaskan bahwa berkurangnya permintaan dari pembeli dalam jumlah besar menyebabkan pedagang harus menurunkan harga berbagai komoditas pangan. Kondisi tersebut menguntungkan konsumen karena harga menjadi lebih murah, namun di sisi lain berdampak negatif bagi petani dan pedagang yang mengalami kesulitan menjual hasil panen sehingga memicu penurunan harga dan persaingan antarpedagang.

 

Sebagai tanggapan, Rizal dan Lukman menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengatur distribusi hasil panen agar petani tetap memiliki kepastian pasar, terutama ketika Program MBG tidak berlangsung. Menurut mereka, sistem distribusi yang baik dapat menjaga kestabilan harga sekaligus melindungi pendapatan petani.

 

Pembahasan juga menyinggung Program Sekolah Rakyat yang turut menyediakan makan gratis bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu. Lukman menjelaskan bahwa program tersebut tetap memberikan dampak positif terhadap penyerapan hasil panen dan perekonomian lokal, meskipun cakupannya masih lebih terbatas dibandingkan Program MBG yang telah diterapkan secara luas di berbagai daerah.

 

Sementara itu, Wenty, Koordinator Divisi Media Creative, mendorong adanya kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM lokal untuk terlibat dalam rantai distribusi pangan Program Sekolah Rakyat. Menurutnya, dukungan tersebut dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus memastikan manfaat program dirasakan secara lebih merata.

 

Diskusi berlangsung secara aktif dengan berbagai argumentasi dan tanggapan dari peserta mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis beserta dampaknya terhadap dinamika harga pangan di Indonesia. Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah berharap mahasiswa mampu memahami berbagai perspektif terkait kebijakan ekonomi yang sedang berkembang, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menyikapi berbagai persoalan ekonomi di masyarakat.

 

PRESS RELEASE

 

HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Podcast Bahas Daya Beli Masyarakat di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyelenggarakan kegiatan Podcast Disemi Terinovatif pada Selasa, 7 Juli 2026, pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB, bertempat di Ruang Podcast Gedung K.H. M. Hasyim Asy'ari, Fakultas Dakwah, Kampus 3 UIN Salatiga. Kegiatan ini mengangkat tema "Daya Beli Masyarakat Indonesia di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok" dengan menghadirkan bapak Bayu Nurhadi, M.Si., Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah sekaligus Dosen FEBI UIN Salatiga, sebagai narasumber dan dipandu oleh Adearroyyanal Hana selaku host.

 

Podcast ini membahas berbagai isu ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat Indonesia. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa kenaikan harga dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu tingkat pendapatan masyarakat, mekanisme harga yang terbentuk melalui permintaan dan penawaran, serta ketersediaan pasokan barang di pasar. Selain itu, peningkatan impor, gangguan rantai pasok, dan terbatasnya stok kebutuhan pokok turut menjadi faktor yang memengaruhi kenaikan harga. Menurut narasumber, faktor pasokan merupakan penyebab yang paling dominan. Kenaikan harga juga kerap terjadi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, Natal, dan awal tahun ajaran baru ketika permintaan masyarakat meningkat.

 

Pada sesi pembahasan mengenai daya beli masyarakat, dijelaskan bahwa dampak kenaikan harga dirasakan secara berbeda oleh setiap kelompok ekonomi. Kelompok ekonomi menengah dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana kelompok berpenghasilan rendah, namun juga belum memiliki kondisi ekonomi yang mapan seperti kelompok berpenghasilan tinggi. Sementara itu, sekitar 60 persen pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Meski demikian, daya beli masyarakat tidak serta-merta menurun karena kebutuhan konsumsi tetap harus dipenuhi dalam berbagai kondisi ekonomi.

 

Narasumber juga menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap kenaikan harga. Kelompok pekerja di sektor informal, seperti pengemudi ojek daring dan pelaku usaha kecil, dinilai lebih rentan karena tidak memiliki pendapatan tetap setiap bulan. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi salah satu langkah penting agar masyarakat mampu mengelola pengeluaran secara bijaksana, menyesuaikan pola konsumsi, serta lebih responsif dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

 

Dalam pembahasan mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga, narasumber mengingatkan agar pendapatan tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi. Masyarakat dianjurkan menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan maupun dana cadangan. Mengacu pada rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 30 persen pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk tabungan, investasi, atau dana darurat. Selain itu, investasi jangka panjang seperti emas, perak, maupun saham dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjaga stabilitas keuangan di masa depan.

 

Menutup sesi podcast, narasumber menyampaikan harapan agar pemerintah mengutamakan kebijakan fiskal yang tepat sebelum mengambil langkah defisit anggaran karena defisit dapat memberikan dampak terhadap kenaikan harga. Pelaku usaha juga diharapkan mampu terus berinovasi sehingga kualitas produk tetap terjaga meskipun harga bahan baku meningkat, tanpa harus membebankan kenaikan harga yang berlebihan kepada konsumen. Sementara itu, mahasiswa sebagai generasi muda diharapkan mampu meningkatkan literasi keuangan yang kreatif, adaptif, dan aplikatif sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang.

 

Melalui kegiatan Podcast Disemi Terinovatif ini, diharapkan masyarakat, khususnya mahasiswa, dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kenaikan harga kebutuhan pokok, kondisi daya beli masyarakat, serta pentingnya pengelolaan keuangan yang bijaksana. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya masyarakat yang lebih adaptif, memiliki ketahanan finansial yang baik, dan siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan.

 

HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Podcast Bahas Daya Beli Masyarakat di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok




SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga melaksanakan program kerja podcast disemi terinovatif dengan tema “Daya Beli Masyarakat Indonesia di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok”. Kegiatan ini digelar sebagai respons atas kondisi kenaikan harga kebutuhan pokok yang tengah dirasakan masyarakat Indonesia, sekaligus upaya meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Podcast ini menghadirkan Bapak Bayu Nurhadi, M.Si., Sekretaris Program Studi dan Dosen FEBI UIN Salatiga sebagai narasumber, dengan dipandu oleh host Adearroyyanal Hana. Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 7 Juli 2026, bertempat di Ruang Podcast Gedung K.H. M. Hasyim Asy’ari, Fakultas Dakwah, Kampus 3 UIN Salatiga. 


Diskusi dibuka dengan membahas penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok. Bapak Bayu menyebut tiga faktor yang saling berkaitan yaitu pendapatan, harga, serta permintaan dan penawaran. Kenaikan impor, gangguan rantai pasokan, dan suplai stok yang terbatas menjadi pemicu utama guncangan harga, apalagi ketika memasuki momenmomen tertentu seperti Natal, Lebaran, atau awal tahun ajaran baru. Dari ketiganya, suplai stok dinilai paling berpengaruh. Pembahasan bergeser ke kondisi daya beli masyarakat. Menurut beliau, masyarakat Indonesia bisa dibagi ke dalam tiga kelompok ekonomi, yaitu menengah atas, menengah, dan menengah bawah. Kelompok menengah justru dinilai paling rawan. Mereka tidak mendapat bantuan seperti KIS atau subsidi, namun juga belum semapan kelompok atas. Sementara itu, kalangan bawah harus mengalokasikan sekitar 60 persen pendapatannya hanya untuk kebutuhan pokok. Meski begitu, Bapak Bayu menegaskan bahwa daya beli masyarakat tidak serta-merta anjlok. Konsumsi tetap berjalan, apa pun kondisi ekonominya. 


Diskusi kemudian mengarah pada strategi masyarakat menghadapi kenaikan harga. Bapak Bayu menyoroti sektor informal, seperti pengemudi ojek online, sebagai kelompok paling rentan lantaran tidak memiliki pendapatan tetap tiap bulan. Literasi keuangan disebutnya sebagai solusi utama, namun sayangnya belum berjalan adaptif, sebab pola konsumsi masyarakat Indonesia masih terlalu bergantung pada belanja. “Masyarakat perlu ikut merespons kenaikan harga, bukan hanya menunggu harga turun,” ujarnya. Beliau melanjutkan dengan pentingnya pengelolaan keuangan yang efektif. Pendapatan katanya, tidak boleh habis untuk konsumsi saja. Perlu ada bagian yang disisihkan untuk tabungan atau dana cadangan. Bapak Bayu mengutip anjuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar masyarakat menyisihkan sekitar 30 persen dari pendapatannya. beliau turut menyarankan investasi jangka panjang, seperti saham, emas, atau perak, sebagai langkah memperkuat pengelolaan keuangan rumah tangga. 


Di penghujung diskusi, Bapak Bayu menyampaikan harapan sekaligus solusi menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Beliau berharap pemerintah lebih dulu menempuh kebijakan fiskal ketimbang langsung mengambil opsi defisit, sebab defisit anggaran berdampak langsung pada harga di pasar. Pelaku usaha, menurutnya, juga perlu terus berinovasi agar kualitas produk tetap terjaga meski harga bahan baku naik, sehingga harga jual bisa dijaga tetap stabil. Kepada mahasiswa, beliau berpesan agar literasi keuangan yang kreatif dan aplikatif menjadi prioritas. Beliau berharap masyarakat semakin cakap mengelola keuangan pribadi, sehingga lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi. 


Melalui podcast ini, HMPS Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga berharap dapat menjadi ruang diskusi yang edukatif dan relevan terhadap berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Kegiatan podcast ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya literasi ekonomi serta pengelolaan keuangan yang bijak dalam menghadapi dinamika perekonomian. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus menjadi wadah diskusi yang mendorong peningkatan literasi ekonomi, memperluas wawasan, serta memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.