Pergantian
Menteri Keuangan dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia
SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion dengan tema “Pergantian Menteri Keuangan dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 15.00 WIB hingga selesai dan bertempat di samping Masjid FEBI Kampus 3 UIN Salatiga.
Kegiatan
ini dihadiri oleh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dan beberapa peserta
debate Skill Session. Diskusi menghadirkan Yoni Heri Kurniawan Bekti sebagai
pemantik dan Shofiyatun Nisa sebagai moderator.
Dalam
diskusi dijelaskan bahwa Menteri Keuangan memiliki peran strategis dalam
pengelolaan kebijakan fiskal, antara lain melalui pengelolaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penerimaan perpajakan, serta pengelolaan
pembiayaan dan utang negara. Oleh karena itu, pergantian Menteri Keuangan dapat
menjadi perhatian publik karena berpotensi memengaruhi arah, prioritas, dan
implementasi kebijakan fiskal pemerintah.
Salah
satu isu yang menjadi pembahasan utama adalah pergantian Purbaya Yudhi Sadewa
sebagai Menteri Keuangan dan kemudian digantikan oleh Suahasil Nazara. Serah
terima jabatan tersebut berlangsung pada 15 September 2026. Pergantian ini
kemudian menjadi bahan diskusi mengenai bagaimana perubahan kepemimpinan di
Kementerian Keuangan dapat memengaruhi kesinambungan kebijakan ekonomi dan
fiskal pemerintah.
Peserta
diskusi kemudian diajak membahas pertanyaan mengenai apakah pergantian Menteri
Keuangan akan memberikan dampak positif atau justru menimbulkan tantangan baru
bagi perekonomian Indonesia. Sebagian peserta menyampaikan pandangan bahwa
Purbaya memiliki sejumlah terobosan kebijakan yang dinilai mampu mendorong
aktivitas ekonomi. Di sisi lain, terdapat pula pandangan bahwa pergantian
Menteri Keuangan merupakan bagian dari kewenangan Presiden dan dapat dilakukan
sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan pemerintahan.
Pembahasan
juga menyoroti kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar
5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2025 yang sebesar 4,87 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu sumber
pertumbuhan terbesar dengan kontribusi pertumbuhan sebesar 2,94 persen.
Namun,
diskusi tidak hanya melihat pertumbuhan ekonomi dari sisi angka makro. Peserta
juga mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi tersebut telah sepenuhnya
dirasakan oleh masyarakat. Pertanyaan tersebut penting karena pertumbuhan
Produk Domestik Bruto (PDB) tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh
masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan dalam tingkat yang sama.
Data
BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2026 persentase penduduk miskin Indonesia
berada pada angka 8,07 persen, atau sekitar 22,93 juta orang. Angka tersebut
sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan September 2025 yang sebesar 8,25
persen. Dengan demikian, kondisi kemiskinan secara nasional menunjukkan
perbaikan, tetapi jumlah masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan
tetap menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Dari
sisi ketenagakerjaan, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia
pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibandingkan
Februari 2025. Meskipun mengalami penurunan, masih terdapat sekitar 7,24 juta
orang yang menganggur dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan
penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan mampu menyerap tenaga kerja
secara lebih luas.
Diskusi
juga menyinggung bahwa dampak pertumbuhan ekonomi tidak selalu dirasakan secara
merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dapat berjalan
positif secara nasional, tetapi masyarakat masih dapat menghadapi persoalan
seperti kesempatan kerja, tingkat pendapatan, daya beli, dan biaya kebutuhan
hidup. Karena itu, keberhasilan kebijakan ekonomi tidak hanya dapat dilihat
dari pertumbuhan PDB, tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam
perkembangan terbaru, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar
5,29 persen secara tahunan. Sementara itu, ekonomi semester I 2026 tumbuh
sebesar 5,45 persen dibandingkan semester I 2025. Data tersebut menunjukkan
bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi tumbuh, meskipun laju
pertumbuhan pada triwulan II lebih rendah dibandingkan triwulan I.
Melalui
kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah tidak hanya
mengajak mahasiswa untuk memahami pergantian pejabat dalam pemerintahan, tetapi
juga mendorong mahasiswa agar mampu melihat kebijakan ekonomi secara lebih
kritis. Pergantian Menteri Keuangan perlu dipahami dalam konteks kesinambungan
kebijakan fiskal, stabilitas ekonomi, pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja,
serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting dalam melihat kinerja perekonomian, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Kebijakan fiskal yang baik perlu diarahkan agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan merata bagi masyarakat. Dengan demikian, perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan diharapkan tetap menjaga kesinambungan kebijakan sekaligus mampu menjawab tantangan perekonomian Indonesia ke depan.

0 comments:
Posting Komentar