HMPS Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga Gelar PBAK Prodi Sambut Mahasiswa Baru 2026


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tingkat program studi bersama mahasiswa baru angkatan 2026, Kamis (20/8/2026), di Aula FEBI UIN Salatiga. Kegiatan ini mengusung tema "Membangun Generasi Ekonom Muda yang Inovatif dan Berkelanjutan melalui Kolaborasi Kebijakan Publik dan Inovasi Bisnis Berbasis Triple Bottom Line" dan menjadi bagian dari rangkaian PBAK, mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi, guna mengenalkan mahasiswa baru pada lingkungan program studi beserta kepengurusan organisasinya.

 

Kegiatan dibuka dengan pengenalan HMPS, mulai dari perkenalan pengurus hingga pemaparan program kerja. Sesi ini disampaikan secara berjenjang, dimulai dari Badan Pengurus Harian (BPH), lalu dilanjutkan oleh masing-masing divisi, yakni Divisi HRD, Divisi RE, Divisi Advokesma, Divisi Creativepreneur, dan Divisi Media Kreatif. Antusiasme mahasiswa baru terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung.

 

Memasuki sesi berikutnya, Ibu Emy Widyastuti, M.E., selaku Kepala Program Studi Ekonomi Syariah, memberikan pengenalan keprodian sekaligus sosialisasi Kurikulum OBE. Dalam pemaparannya, Ibu Emy menjelaskan ruang lingkup Program Studi Ekonomi Syariah, bekal yang perlu disiapkan mahasiswa selama menempuh perkuliahan, hingga gambaran alur studi di setiap semester agar mahasiswa dapat lulus tepat waktu. Beliau juga menekankan pentingnya membangun pemahaman dasar ekonomi syariah sejak awal, mengingat mahasiswa akan menjadi generasi yang dituntut mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

 

Rangkaian PBAK prodi ditutup dengan sesi tanya jawab, penyerahan sertifikat, serta foto bersama. Seluruh kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme, sekaligus diharapkan menjadi bekal awal bagi mahasiswa baru untuk lebih mengenal lingkungan akademik maupun organisasi kemahasiswaan di Program Studi Ekonomi Syariah UIN Salatiga

 

PRESS RELEASE


Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia.


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion pada Minggu, 26 Juli 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai secara daring melalui Google Meet. Kegiatan ini mengangkat tema "Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia."

 

Diskusi dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dengan Lukman Adiansah, anggota Divisi Research and Education (RE), sebagai pemantik diskusi serta Agus Mizan sebagai moderator. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan membahas berbagai dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap harga pangan, kesejahteraan petani, serta stabilitas ekonomi.

 

Pada sesi pemaparan, Daffa, Koordinator Divisi HRD, menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong kesejahteraan petani dan peternak melalui peningkatan permintaan bahan pangan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Sandra, anggota Divisi Advokesma, yang menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada tata kelola distribusi bahan pangan yang transparan serta pengawasan yang ketat agar terhindar dari praktik korupsi yang dapat merugikan negara.

 

Menanggapi hal tersebut, Arozi, anggota Divisi HRD, menyampaikan bahwa pemerintah juga perlu memperhatikan skala prioritas dalam pelaksanaan program. Menurutnya, selain memastikan Program MBG berjalan optimal, pemerintah perlu memperbaiki sarana pendidikan yang masih rusak serta memastikan penerima manfaat benar-benar tepat sasaran, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

 

Dalam diskusi juga dibahas fenomena perubahan harga bahan pangan ketika kegiatan sekolah dan Program MBG memasuki masa libur. Sandra, Lukman, dan Rizal, anggota Divisi Creativepreneur, menjelaskan bahwa berkurangnya permintaan dari pembeli dalam jumlah besar menyebabkan pedagang harus menurunkan harga berbagai komoditas pangan. Kondisi tersebut menguntungkan konsumen karena harga menjadi lebih murah, namun di sisi lain berdampak negatif bagi petani dan pedagang yang mengalami kesulitan menjual hasil panen sehingga memicu penurunan harga dan persaingan antarpedagang.

 

Sebagai tanggapan, Rizal dan Lukman menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengatur distribusi hasil panen agar petani tetap memiliki kepastian pasar, terutama ketika Program MBG tidak berlangsung. Menurut mereka, sistem distribusi yang baik dapat menjaga kestabilan harga sekaligus melindungi pendapatan petani.

 

Pembahasan juga menyinggung Program Sekolah Rakyat yang turut menyediakan makan gratis bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu. Lukman menjelaskan bahwa program tersebut tetap memberikan dampak positif terhadap penyerapan hasil panen dan perekonomian lokal, meskipun cakupannya masih lebih terbatas dibandingkan Program MBG yang telah diterapkan secara luas di berbagai daerah.

 

Sementara itu, Wenty, Koordinator Divisi Media Creative, mendorong adanya kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM lokal untuk terlibat dalam rantai distribusi pangan Program Sekolah Rakyat. Menurutnya, dukungan tersebut dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus memastikan manfaat program dirasakan secara lebih merata.

 

Diskusi berlangsung secara aktif dengan berbagai argumentasi dan tanggapan dari peserta mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis beserta dampaknya terhadap dinamika harga pangan di Indonesia. Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah berharap mahasiswa mampu memahami berbagai perspektif terkait kebijakan ekonomi yang sedang berkembang, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menyikapi berbagai persoalan ekonomi di masyarakat.

 

PRESS RELEASE

 

HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Podcast Bahas Daya Beli Masyarakat di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyelenggarakan kegiatan Podcast Disemi Terinovatif pada Selasa, 7 Juli 2026, pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB, bertempat di Ruang Podcast Gedung K.H. M. Hasyim Asy'ari, Fakultas Dakwah, Kampus 3 UIN Salatiga. Kegiatan ini mengangkat tema "Daya Beli Masyarakat Indonesia di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok" dengan menghadirkan bapak Bayu Nurhadi, M.Si., Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah sekaligus Dosen FEBI UIN Salatiga, sebagai narasumber dan dipandu oleh Adearroyyanal Hana selaku host.

 

Podcast ini membahas berbagai isu ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat Indonesia. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa kenaikan harga dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu tingkat pendapatan masyarakat, mekanisme harga yang terbentuk melalui permintaan dan penawaran, serta ketersediaan pasokan barang di pasar. Selain itu, peningkatan impor, gangguan rantai pasok, dan terbatasnya stok kebutuhan pokok turut menjadi faktor yang memengaruhi kenaikan harga. Menurut narasumber, faktor pasokan merupakan penyebab yang paling dominan. Kenaikan harga juga kerap terjadi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, Natal, dan awal tahun ajaran baru ketika permintaan masyarakat meningkat.

 

Pada sesi pembahasan mengenai daya beli masyarakat, dijelaskan bahwa dampak kenaikan harga dirasakan secara berbeda oleh setiap kelompok ekonomi. Kelompok ekonomi menengah dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memperoleh bantuan sosial sebagaimana kelompok berpenghasilan rendah, namun juga belum memiliki kondisi ekonomi yang mapan seperti kelompok berpenghasilan tinggi. Sementara itu, sekitar 60 persen pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Meski demikian, daya beli masyarakat tidak serta-merta menurun karena kebutuhan konsumsi tetap harus dipenuhi dalam berbagai kondisi ekonomi.

 

Narasumber juga menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap kenaikan harga. Kelompok pekerja di sektor informal, seperti pengemudi ojek daring dan pelaku usaha kecil, dinilai lebih rentan karena tidak memiliki pendapatan tetap setiap bulan. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi salah satu langkah penting agar masyarakat mampu mengelola pengeluaran secara bijaksana, menyesuaikan pola konsumsi, serta lebih responsif dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

 

Dalam pembahasan mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga, narasumber mengingatkan agar pendapatan tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi. Masyarakat dianjurkan menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan maupun dana cadangan. Mengacu pada rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 30 persen pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk tabungan, investasi, atau dana darurat. Selain itu, investasi jangka panjang seperti emas, perak, maupun saham dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjaga stabilitas keuangan di masa depan.

 

Menutup sesi podcast, narasumber menyampaikan harapan agar pemerintah mengutamakan kebijakan fiskal yang tepat sebelum mengambil langkah defisit anggaran karena defisit dapat memberikan dampak terhadap kenaikan harga. Pelaku usaha juga diharapkan mampu terus berinovasi sehingga kualitas produk tetap terjaga meskipun harga bahan baku meningkat, tanpa harus membebankan kenaikan harga yang berlebihan kepada konsumen. Sementara itu, mahasiswa sebagai generasi muda diharapkan mampu meningkatkan literasi keuangan yang kreatif, adaptif, dan aplikatif sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang.

 

Melalui kegiatan Podcast Disemi Terinovatif ini, diharapkan masyarakat, khususnya mahasiswa, dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kenaikan harga kebutuhan pokok, kondisi daya beli masyarakat, serta pentingnya pengelolaan keuangan yang bijaksana. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya masyarakat yang lebih adaptif, memiliki ketahanan finansial yang baik, dan siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan.

 

HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Podcast Bahas Daya Beli Masyarakat di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok




SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga melaksanakan program kerja podcast disemi terinovatif dengan tema “Daya Beli Masyarakat Indonesia di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok”. Kegiatan ini digelar sebagai respons atas kondisi kenaikan harga kebutuhan pokok yang tengah dirasakan masyarakat Indonesia, sekaligus upaya meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Podcast ini menghadirkan Bapak Bayu Nurhadi, M.Si., Sekretaris Program Studi dan Dosen FEBI UIN Salatiga sebagai narasumber, dengan dipandu oleh host Adearroyyanal Hana. Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 7 Juli 2026, bertempat di Ruang Podcast Gedung K.H. M. Hasyim Asy’ari, Fakultas Dakwah, Kampus 3 UIN Salatiga. 


Diskusi dibuka dengan membahas penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok. Bapak Bayu menyebut tiga faktor yang saling berkaitan yaitu pendapatan, harga, serta permintaan dan penawaran. Kenaikan impor, gangguan rantai pasokan, dan suplai stok yang terbatas menjadi pemicu utama guncangan harga, apalagi ketika memasuki momenmomen tertentu seperti Natal, Lebaran, atau awal tahun ajaran baru. Dari ketiganya, suplai stok dinilai paling berpengaruh. Pembahasan bergeser ke kondisi daya beli masyarakat. Menurut beliau, masyarakat Indonesia bisa dibagi ke dalam tiga kelompok ekonomi, yaitu menengah atas, menengah, dan menengah bawah. Kelompok menengah justru dinilai paling rawan. Mereka tidak mendapat bantuan seperti KIS atau subsidi, namun juga belum semapan kelompok atas. Sementara itu, kalangan bawah harus mengalokasikan sekitar 60 persen pendapatannya hanya untuk kebutuhan pokok. Meski begitu, Bapak Bayu menegaskan bahwa daya beli masyarakat tidak serta-merta anjlok. Konsumsi tetap berjalan, apa pun kondisi ekonominya. 


Diskusi kemudian mengarah pada strategi masyarakat menghadapi kenaikan harga. Bapak Bayu menyoroti sektor informal, seperti pengemudi ojek online, sebagai kelompok paling rentan lantaran tidak memiliki pendapatan tetap tiap bulan. Literasi keuangan disebutnya sebagai solusi utama, namun sayangnya belum berjalan adaptif, sebab pola konsumsi masyarakat Indonesia masih terlalu bergantung pada belanja. “Masyarakat perlu ikut merespons kenaikan harga, bukan hanya menunggu harga turun,” ujarnya. Beliau melanjutkan dengan pentingnya pengelolaan keuangan yang efektif. Pendapatan katanya, tidak boleh habis untuk konsumsi saja. Perlu ada bagian yang disisihkan untuk tabungan atau dana cadangan. Bapak Bayu mengutip anjuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar masyarakat menyisihkan sekitar 30 persen dari pendapatannya. beliau turut menyarankan investasi jangka panjang, seperti saham, emas, atau perak, sebagai langkah memperkuat pengelolaan keuangan rumah tangga. 


Di penghujung diskusi, Bapak Bayu menyampaikan harapan sekaligus solusi menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Beliau berharap pemerintah lebih dulu menempuh kebijakan fiskal ketimbang langsung mengambil opsi defisit, sebab defisit anggaran berdampak langsung pada harga di pasar. Pelaku usaha, menurutnya, juga perlu terus berinovasi agar kualitas produk tetap terjaga meski harga bahan baku naik, sehingga harga jual bisa dijaga tetap stabil. Kepada mahasiswa, beliau berpesan agar literasi keuangan yang kreatif dan aplikatif menjadi prioritas. Beliau berharap masyarakat semakin cakap mengelola keuangan pribadi, sehingga lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi. 


Melalui podcast ini, HMPS Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga berharap dapat menjadi ruang diskusi yang edukatif dan relevan terhadap berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Kegiatan podcast ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya literasi ekonomi serta pengelolaan keuangan yang bijak dalam menghadapi dinamika perekonomian. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus menjadi wadah diskusi yang mendorong peningkatan literasi ekonomi, memperluas wawasan, serta memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

 

PRESS RELEASE 


Pembekalan Magang Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga Tahun 2026


SALATIGA – Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Pembekalan Magang Mahasiswa pada Senin, 29 Juni 2026, bertempat di Aula Lantai 3 Gedung K.H. Zubair Umar Al Jailani UIN Salatiga. Kegiatan ini mengangkat tema "Sinergi Akademik dan Praktik Profesional dalam Membangun SDM Ekonomi Syariah yang Kompetitif."

 

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang meliputi pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UIN Salatiga, sambutan dari Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, serta ditutup dengan doa. Rangkaian pembukaan tersebut menjadi awal pelaksanaan pembekalan sebagai bekal bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja melalui program magang.

 

Materi pertama disampaikan oleh Ibu Emy Widyastuti, M.E., selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan mekanisme dan alur pelaksanaan magang, mulai dari prosedur administrasi, ketentuan pelaksanaan, hingga hak dan kewajiban mahasiswa selama mengikuti program magang. Beliau juga menekankan pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, serta etika dalam menjalankan magang agar mahasiswa mampu menjaga nama baik Program Studi dan Universitas selama berada di instansi mitra.

 

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Bapak Abd. Rohim, S.Sos., selaku Kepala Bidang Wakaf, Zakat, dan Infak Kementerian Agama Kota Salatiga. Dalam penyampaiannya, beliau memberikan gambaran mengenai dunia kerja serta membagikan berbagai kiat kepada mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, membangun komunikasi yang baik, serta menunjukkan sikap profesional selama menjalani program magang. Beliau juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan magang sebagai sarana belajar, mengembangkan kompetensi, dan memperluas pengalaman di dunia profesional.

 

Melalui kegiatan Pembekalan Magang ini, diharapkan seluruh mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah dapat mempersiapkan diri secara optimal sebelum terjun ke dunia profesional. Bekal akademik yang dipadukan dengan wawasan praktis diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia yang kompeten, berintegritas, serta siap memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi syariah di masa mendatang.


 

PRESS RELEASE 


Kenaikan Harga Pertamax dan Pengaruhnya terhadap Stabilitas Ekonomi


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion pada Minggu, 21 Juni 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertempat di Cikimoy, Salatiga. Kegiatan ini mengangkat tema "Kenaikan Harga Pertamax dan Pengaruhnya terhadap Stabilitas Ekonomi."

 

Diskusi dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dengan M. Agus Mizan, Koordinator Divisi Research and Education (RE), sebagai pemantik diskusi. Sebelum kegiatan dimulai, peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tim pro dan tim kontra, guna memperkaya sudut pandang dalam pembahasan isu.

 

Pada sesi pemaparan, Dafa, Koordinator Divisi HRD dari tim pro, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax pada 1 Juni 2026 merupakan bentuk penyesuaian harga setelah sebelumnya dipertahankan di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada harga minyak mentah internasional. Pendapat tersebut diperkuat oleh Marsa, Koordinator Divisi Advokesma, yang menyampaikan bahwa kenaikan harga Pertamax dipengaruhi oleh penyesuaian pasar terhadap meningkatnya harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik.

 

Menanggapi hal tersebut, Farouq, anggota Divisi Media Creative dari tim kontra, mempertanyakan alasan harga Pertamax yang masih tinggi meskipun harga minyak mentah dunia mulai mengalami penurunan. Pertanyaan tersebut memicu diskusi yang semakin aktif dan mendorong peserta untuk menyampaikan berbagai pandangan terkait kebijakan harga bahan bakar minyak.

 

Ica, anggota Divisi RE dari tim kontra, menyampaikan bahwa apabila pemerintah tidak mengambil langkah yang cepat dan tepat, kenaikan harga Pertamax berpotensi menimbulkan ketidak stabilan ekonomi. Ia juga menyoroti kemungkinan peralihan masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi. Menurutnya, peningkatan konsumsi BBM subsidi dapat menyebabkan pembengkakan anggaran subsidi dan menambah beban pengeluaran negara.


Sebagai tanggapan, Dafa mengusulkan agar subsidi BBM lebih tepat sasaran melalui pendataan masyarakat rentan, pembatasan volume pembelian, serta pemanfaatan teknologi QR Code untuk pemantauan distribusi. Selain itu, subsidi barang dapat dialihkan menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) guna menjaga daya beli masyarakat tanpa menimbulkan ketidaktepatan sasaran penerima manfaat.

 

Dalam diskusi juga muncul pertanyaan mengenai minimnya sosialisasi sebelum kebijakan kenaikan harga diberlakukan. Menanggapi hal tersebut, Rindu, anggota Divisi HRD, menyampaikan bahwa penyesuaian harga yang dilakukan pada malam hari bertujuan untuk menghindari aksi penimbunan BBM dan meminimalkan gejolak yang berpotensi terjadi di masyarakat.

 

Sementara itu, Lessy, anggota Divisi RE dari tim kontra, memaparkan beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat kenaikan harga Pertamax, di antaranya penurunan daya beli masyarakat, peningkatan inflasi, kenaikan biaya produksi usaha, serta risiko bertambahnya angka kemiskinan.

 

Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai argumentasi dan tanggapan dari peserta mengenai kebijakan harga BBM serta dampaknya terhadap perekonomian nasional. Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah berharap mahasiswa dapat memahami berbagai perspektif terkait isu ekonomi yang berkembang sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menanggapi berbagai permasalahan ekonomi di masyarakat.


 

HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Rapat Tengah Periode Guna Evaluasi Program Kerja



SALATIGA — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar Rapat Tengah Periode pada Minggu, 21 Juni 2026, di Ruang Nusantara Gedung DPRD Salatiga. Rapat tersebut diadakan guna mengevaluasi capaian program kerja yang telah berjalan, sekaligus memastikan pelaksanaan program kerja pada bulan-bulan berikutnya tetap berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

 

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus HMPS Ekonomi Syariah, yang terdiri atas Badan Pengurus Harian (BPH) Umum, Divisi Human Resource Development (HRD), Divisi Research and Education (RE), Divisi Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma), Divisi Creativepreneur, serta Divisi Media Creative. Rapat dibuka dengan pemaparan laporan perkembangan dari setiap divisi sebelum memasuki sesi diskusi dan evaluasi bersama.

 

Laporan pertanggungjawaban dalam Rapat Tengah Periode ini disampaikan secara bergiliran, diawali oleh Divisi HRD, RE, Advokesma, Creativepreneur, hingga Media Creative. Setiap divisi memaparkan program kerja yang telah terlaksana beserta kendala yang dihadapi. Koordinator maupun anggota divisi turut menyampaikan pandangan dan masukan masing-masing. Setelah seluruh divisi menyelesaikan pemaparan, sesi laporan ditutup oleh BPH Umum yang menyampaikan evaluasi secara menyeluruh terhadap kinerja organisasi selama periode kepengurusan yang telah berjalan.

 

Selain pemaparan laporan, rapat ini juga menghasilkan sejumlah catatan evaluasi yang akan menjadi acuan bagi setiap divisi dalam menjalankan program kerja pada bulan-bulan berikutnya. Sejumlah program kerja yang belum terlaksana disepakati untuk dijadwalkan ulang, sementara program kerja yang telah berjalan dengan baik akan tetap dilanjutkan dengan beberapa penyesuaian teknis.

 

Rapat Tengah Periode ini berlangsung secara tertib dan diikuti secara aktif oleh seluruh pengurus dari awal hingga akhir sesi. Melalui kegiatan ini, HMPS Ekonomi Syariah FEBI UIN Salatiga berharap seluruh pengurus dapat memperkuat koordinasi, meningkatkan tanggung jawab, serta melakukan perbaikan dalam pelaksanaan setiap program kerja. Hasil evaluasi yang telah disepakati diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh divisi agar program kerja pada periode berikutnya dapat terlaksana secara lebih optimal, terarah, dan memberikan manfaat bagi mahasiswa Ekonomi Syariah