(PRESS RELEASE) HMPS EKONOMI SYARIAH UIN SALATIGA GELAR ECONOMIC DISCUSSION MEMBAHAS STRATEGI BARU BI



PRESS RELEASE
HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Economic Discussion Membahas Strategi Baru BI



SALATIGA - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar kegiatan Economic Discussion. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin, 30 Maret 2026, di Ruang ORMAWA Lantai 2 Gedung KH. Zubair Umar Al Jailani, Kampus 3 UIN Salatiga, dan kegiatan ini dihadiri oleh pengurus HMPS Ekonomi Syariah. 


Diskusi kali ini mengangkat isu aktual berjudul “Strategi Baru BI: Perkuat Operasi Moneter Demi Jaga Stabilitas Kurs Rupiah”, dengan Ketua Umum HMPS Ekonomi Syariah sebagai pemantik diskusi. Isu ini diangkat berdasarkan perkembangan kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global.


Dalam sesi diskusi, peserta diajak memahami perbedaan antara kebijakan fiskal dan moneter. Salah satu peserta, Zahrotunnisa, menjelaskan bahwa kebijakan fiskal berkaitan dengan pengelolaan penerimaan dan pengeluaran negara melalui APBN, sedangkan kebijakan moneter mencakup instrumen seperti suku bunga dan operasi pasar terbuka.


Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai tanggapan dari peserta. Shofi mengungkapkan bahwa konflik Iran–Israel dipicu oleh perebutan pengaruh dan wilayah. Dafa turut mempertanyaan faktor-faktor apa yang memengaruhi stabilitas nilai tukar Rupiah.


Raditya menjelaskan bahwa salah satu strategi untuk mengatasi pelemahan Rupiah adalah dengan menaikkan suku bunga guna menarik aliran modal asing. Menanggapi hal tersebut, Dafa mengusulkan alternatif melalui pasar valuta asing (PUVA). Melalui PUVA, Bank Indonesia dapat melakukan intervensi dengan menjual cadangan devisa untuk menambah pasokan dolar dipasar, sehingga membantu menstabilkan nilai tukar Rupiah tanpa harus terlalu bergantung pada kenaikan suku bunga.


Sementara itu, Sandra dan Lukman menegaskan bahwa konflik Iran–Israel memberikan dampak tidak langsung terhadap Indonesia, seperti kenaikan harga dan potensi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), meningkatnya biaya impor, serta ketidakpastian pasar yang berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dan memicu inflasi.


Diskusi juga menyoroti bahwa pelemahan Rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti konflik geopolitik, tetapi juga faktor internal seperti jumlah uang beredar, kebijakan moneter, serta perilaku konsumsi masyarakat.


Kegiatan ditutup dengan penegasan bahwa diskusi merupakan ruang belajar bersama, bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling unggul. Seluruh peserta diajak untuk terus meningkatkan pemahaman terhadap isu ekonomi agar mampu berpikir lebih kritis dan kontekstual.


HMPS Ekonomi Syariah berharap kegiatan diskusi seperti ini dapat terus menjadi wadah edukasi dan pengembangan wawasan mahasiswa dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berkembang.


0 comments:

Posting Komentar