The Fed Pangkas Suku Bunga 0,25 Persen Jadi 3,75–4,00 Persen
Washington – Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), pada Rabu (29/10/2025) resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 persen poin, sehingga kisaran suku bunga dana federal kini berada di level 3,75 % – 4,00 %. Keputusan tersebut diambil dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sebagai upaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat dan inflasi yang masih di atas target.
Dalam pernyataannya, The Fed menjelaskan bahwa kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dengan pertumbuhan lapangan kerja yang melambat dan tingkat pengangguran yang mulai naik. Meski demikian, inflasi di Amerika Serikat masih “agak tinggi”, sehingga bank sentral tetap berhati-hati dalam menentukan langkah selanjutnya.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa keputusan pemangkasan kali ini tidak menjamin adanya penurunan lanjutan pada pertemuan Desember mendatang. “Pemangkasan lebih lanjut bukanlah sesuatu yang pasti,” ujar Powell dalam konferensi pers di Washington. Ia menambahkan, keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan risiko yang dihadapi pasar tenaga kerja.
Langkah pemangkasan ini merupakan yang kedua sepanjang tahun 2025. Pasar keuangan merespons keputusan tersebut secara beragam; indeks saham sempat melemah karena pelaku pasar menilai Fed masih berhati-hati terhadap potensi perlambatan ekonomi.
Sementara itu, pengamat menilai kebijakan moneter Amerika Serikat berpotensi memengaruhi arah kebijakan Bank Indonesia (BI). Meski The Fed memangkas suku bunga, BI diperkirakan belum akan segera mengikuti langkah serupa. Analis menilai, dengan inflasi domestik yang relatif terkendali dan stabilitas nilai tukar yang masih dijaga, BI cenderung mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah ketidakpastian global.
Keputusan The Fed ini juga berpotensi mendorong pergerakan modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, BI diperkirakan akan tetap berhati-hati agar tidak terjadi volatilitas berlebihan pada rupiah.
Sumber:
Bisnis.com

