PRESS RELEASE
Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia.
SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam
Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion pada
Minggu, 26 Juli 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai secara daring melalui Google
Meet. Kegiatan ini mengangkat tema "Pengaruh Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) terhadap Dinamika Harga Pangan di Indonesia."
Diskusi dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS
Ekonomi Syariah dengan Lukman Adiansah, anggota Divisi Research and Education
(RE), sebagai pemantik diskusi serta Agus Mizan sebagai moderator. Kegiatan
berlangsung secara interaktif dengan membahas berbagai dampak Program Makan
Bergizi Gratis (MBG) terhadap harga pangan, kesejahteraan petani, serta
stabilitas ekonomi.
Pada sesi pemaparan, Daffa, Koordinator Divisi HRD,
menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program bantuan
pangan, melainkan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber
daya manusia sekaligus mendorong kesejahteraan petani dan peternak melalui
peningkatan permintaan bahan pangan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Sandra,
anggota Divisi Advokesma, yang menekankan bahwa keberhasilan program sangat
bergantung pada tata kelola distribusi bahan pangan yang transparan serta pengawasan
yang ketat agar terhindar dari praktik korupsi yang dapat merugikan negara.
Menanggapi hal tersebut, Arozi, anggota Divisi HRD,
menyampaikan bahwa pemerintah juga perlu memperhatikan skala prioritas dalam
pelaksanaan program. Menurutnya, selain memastikan Program MBG berjalan
optimal, pemerintah perlu memperbaiki sarana pendidikan yang masih rusak serta
memastikan penerima manfaat benar-benar tepat sasaran, termasuk ibu hamil, ibu
menyusui, dan anak-anak.
Dalam diskusi juga dibahas fenomena perubahan harga
bahan pangan ketika kegiatan sekolah dan Program MBG memasuki masa libur.
Sandra, Lukman, dan Rizal, anggota Divisi Creativepreneur, menjelaskan bahwa
berkurangnya permintaan dari pembeli dalam jumlah besar menyebabkan pedagang
harus menurunkan harga berbagai komoditas pangan. Kondisi tersebut
menguntungkan konsumen karena harga menjadi lebih murah, namun di sisi lain
berdampak negatif bagi petani dan pedagang yang mengalami kesulitan menjual
hasil panen sehingga memicu penurunan harga dan persaingan antarpedagang.
Sebagai tanggapan, Rizal dan Lukman menekankan
pentingnya peran pemerintah dalam mengatur distribusi hasil panen agar petani
tetap memiliki kepastian pasar, terutama ketika Program MBG tidak berlangsung.
Menurut mereka, sistem distribusi yang baik dapat menjaga kestabilan harga
sekaligus melindungi pendapatan petani.
Pembahasan juga menyinggung Program Sekolah Rakyat
yang turut menyediakan makan gratis bagi peserta didik dari keluarga kurang
mampu. Lukman menjelaskan bahwa program tersebut tetap memberikan dampak
positif terhadap penyerapan hasil panen dan perekonomian lokal, meskipun
cakupannya masih lebih terbatas dibandingkan Program MBG yang telah diterapkan
secara luas di berbagai daerah.
Sementara itu, Wenty, Koordinator Divisi Media
Creative, mendorong adanya kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi
petani dan pelaku UMKM lokal untuk terlibat dalam rantai distribusi pangan
Program Sekolah Rakyat. Menurutnya, dukungan tersebut dapat memperkuat ekonomi
masyarakat sekaligus memastikan manfaat program dirasakan secara lebih merata.
Diskusi berlangsung secara aktif dengan berbagai
argumentasi dan tanggapan dari peserta mengenai pelaksanaan Program Makan
Bergizi Gratis beserta dampaknya terhadap dinamika harga pangan di Indonesia.
Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah berharap
mahasiswa mampu memahami berbagai perspektif terkait kebijakan ekonomi yang
sedang berkembang, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis,
dan solutif dalam menyikapi berbagai persoalan ekonomi di masyarakat.

