(PRESS RELEASE) Melemahnya Nilai Rupiah dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

 

PRESS RELEASE 


Melemahnya Nilai Rupiah dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Salatiga melaksanakan program kerja Economic Discussion dengan tema “Melemahnya Nilai Rupiah dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia” pada Senin, 25 Mei 2026 pukul 15.00 WIB sampai selesai di samping Masjid FEBI Kampus 3 UIN Salatiga.

 

Kegiatan ini menghadirkan pemateri M. Ilya Nurul Latif selaku Wakil Ketua Himpuanan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah. Diskusi dibuka untuk mahasiswa umum FEBI serta seluruh internal HMPS ES sebagai wadah meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional, khususnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah.

 

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa melemahnya nilai rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal. Dari faktor eksternal, penyebab utama meliputi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (The Fed), konflik geopolitik dunia, kenaikan harga minyak global, serta kebijakan tarif internasional yang memengaruhi perdagangan dunia. Sementara dari faktor internal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tingginya impor, defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD), tingginya permintaan dolar AS, serta penggunaan anggaran yang dinilai belum tepat sasaran.

 

Pemateri juga menjelaskan bahwa dampak pelemahan rupiah saat ini memang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat, namun diperkirakan dalam satu hingga dua bulan ke depan dampaknya akan semakin terlihat, terutama terhadap kenaikan harga barang dan kondisi APBN yang berpotensi mengalami defisit lebih besar.

 

Selain itu, dibahas pula mengenai rencana pemerintah yang akan menerapkan sistem satu pintu ekspor pada sektor pertambangan sebagai salah satu langkah penguatan ekonomi nasional. Dalam diskusi tersebut juga dijelaskan kondisi nilai tukar rupiah yang melemah hingga mencapai Rp17.700 per dolar AS serta defisit transaksi berjalan sebesar US$4 miliar pada kuartal I tahun 2026.

 

Dalam forum diskusi, peserta dibagi menjadi dua sudut pandang kebutuhan, yaitu kebutuhan pemerintah dan kubu mahasiswa. Dari sisi pemerintah, beberapa kebijakan yang dapat dilakukan untuk menstabilkan rupiah antara lain menaikkan suku bunga acuan, melakukan intervensi pasar valuta asing, menjaga cadangan devisa, mendorong ekspor dan mengurangi impor, menerapkan kebijakan DHE SDA, menarik investasi asing, menjaga inflasi tetap rendah, serta mengurangi utang luar negeri jangka pendek.

 

Menanggapi pemerintah, mahasiswa menilai bahwa menaikkan suku bunga dan menguras cadangan devisa hanyalah obat jangka pendek yang justru bisa mempersulit modal usaha bagi UMKM. Oleh karena itu, mahasiswa mendesak pemerintah segera melindungi rakyat kecil dari ancaman lonjakan harga barang. Mahasiswa juga meminta pemerintah untuk menghemat anggaran yang tidak penting demi mengatasi defisit negara, serta memastikan rencana sistem satu pintu ekspor tambang berjalan jujur tanpa korupsi. Intinya, mahasiswa menegaskan bahwa kunci utama agar rupiah kembali kuat adalah dengan memperbanyak produksi barang di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada barang impor.

 

Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS ES berharap mahasiswa mampu memahami kondisi ekonomi Indonesia secara lebih kritis dan meningkatkan kepedulian terhadap isu-isu ekonomi nasional yang sedang berkembang.

0 comments:

Posting Komentar