(PRESS RELEASE) DEMA FEBI BERSAMA HMPS EKONOMI SYARIAH GELAR GHAZALIA CENTER, KAJI DAMPAK GEOPOLITIK TERHADAP EKONOMI INDONESIA


PRESS RELEASE 


DEMA FEBI Bersama HMPS Ekonomi Syariah Gelar Ghazalia Center, Kaji Dampak Geopolitik terhadap Ekonomi Indonesia


SALATIGA – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, menyelenggarakan kegiatan Gazalia Center Discussion dengan tema “Konsolidasi Kekuatan dan Masa Depan Demokrasi: Membaca Arah Pemerintahan Indonesia di Tengah Dinamika Politik Kontemporer”,Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 16 April 2026, di Kantin FEBI, Gedung KH. Zubair Umar Al Jailani.

 

Kegiatan ini diikuti oleh Mahasiswa umum, serta perwakilan HMPS di lingkungan FEBI, meliputi HMPS Perbankan Syariah, HMPS Ekonomi Syariah, HMPS Akuntansi Syariah, HMPS Manajemen Bisnis Syariah, dan HMPS Bisnis Digital. Forum Gazalia Center Discussion ini menjadi wadah diskusi kritis bagi mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara dinamika politik global dan kebijakan ekonomi nasional.

 

Kegiatan ini menghadirkan pemateri Muhamad Rizky Ariadi, S.Pd. Forum ini membahas kondisi ketegangan geopolitik global yang berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi dunia, salah satunya melalui ancaman distribusi minyak di Selat Hormuz yang berdampak pada lonjakan harga BBM dan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut diperparah oleh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas makroekonomi nasional.

 

Sebagai respons, pemerintah memanfaatkan APBN untuk menjaga stabilitas harga BBM, meskipun langkah ini turut memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal negara. Dua program prioritas pemerintah juga menjadi bahan kajian, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran Rp300 triliun guna menangani persoalan stunting dan gizi, serta program Koperasi Desa Merah Putih yang diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi desa. Keduanya dinilai masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari ketepatan distribusi hingga kekhawatiran akan pembentukan koperasi yang sekadar memenuhi syarat administratif tanpa perencanaan keberlanjutan yang memadai.

 

Forum ini menekankan bahwa di tengah kondisi global yang tidak menentu, diperlukan evaluasi menyeluruh agar kebijakan yang diambil pemerintah tetap efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Implementasi yang kurang adaptif dinilai berpotensi memperbesar risiko defisit anggaran sekaligus melemahkan ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

0 comments:

Posting Komentar