Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis, HMPS Ekonomi Syariah Gelar Debat Skill Session
SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi
Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN)
Salatiga menggelar kegiatan Debat Skill Session dengan tema “Membentuk
Ekonom Muda yang Kritis dan Berani Berargumen di Tengah Dinamika Ekonomi Global”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 10 April 2026, di Aula FEBI Gedung
KH. Zubair Umar Al Jailani, kampus 3 UIN Salatiga.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Serta perwakilan HMPS di lingkungan
FEBI, meliputi HMPS Perbankan Syariah, HMPS Akuntansi Syariah, HMPS Manajemen
Bisnis Syariah, dan HMPS Bisnis Digital, serta dihadiri oleh delegasi dari Universitas
Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS). Kegiatan
turut dihadiri oleh Prof. Dr. Agus Waluyo, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Islam UIN Salatiga. Kegiatan Debat Skill Session bertujuan meningkatkan
kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengajarkan mahasiswa untuk
berargumen dengan jelas, terstruktur, dan persuasif, membantu mahasiswa untuk
mengasah kemampuan public speaking dan membekali mahasiswa untuk mengikuti
berbagai perlombaan debat yang diadakan di dalam maupun di luar kampus.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Salatiga, Prof. Dr. Agus Waluyo, M.Ag. menyampaikan bahwa penguasaan skill merupakan hasil dari proses latihan yang berkelanjutan, bukan sesuatu yang instan. Beliau menegaskan bahwa dalam kegiatan debat, mahasiswa perlu menguasai dua jenis kemampuan, yaitu skill praktis seperti cara berbicara, gaya komunikasi, serta penyampaian pendapat secara santun, dan skill non-praktis yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya ekspresi, kemampuan membangun narasi, serta pengendalian emosi dalam menyampaikan argumen. Menurut beliau, mahasiswa juga perlu memiliki sikap disiplin sekaligus mampu melihat suatu permasalahan dari berbagai perspektif, karena debat tidak hanya melatih keberanian berbicara, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.
Rangkaian kegiatan meliputi penyampaian
materi dasar debat, pembagian peserta ke dalam tim pro dan kontra, serta
praktik debat secara langsung dengan topik-topik yang relevan. Peserta juga
mendapatkan evaluasi dari pemateri dan juri berupa kritik serta saran
konstruktif guna meningkatkan kualitas penyampaian argumen dan cara berpikir
yang sistematis.
Pada sesi materi, Dewi Rahmawati, M.H.
menyampaikan bahwa keahlian atau skill tidak dapat diperoleh secara instan,
melainkan harus dilatih secara terus-menerus. Ia menjelaskan bahwa terdapat dua
jenis kemampuan yang perlu dimiliki dalam debat, yaitu skill praktis
seperti cara berbicara, gaya komunikasi, dan penyampaian pendapat secara
santun, serta skill non-praktis yang berkaitan dengan penguasaan
pengetahuan. Selain itu, ekspresi, kemampuan membangun narasi, serta
pengendalian emosi juga menjadi faktor penting agar debat berlangsung secara
sehat dan konstruktif.
Melalui kegiatan Debate Skill Session ini, mahasiswa memahami dasar-dasar teknik debat, meningkatkan kemampuan public speaking, serta mampu dalam menyusun struktur argumen. Kegiatan Debate Skill Session juga menjadikan agar mahasiswa memiliki keterampilan berpikir kritis dalam menyampaikan argumen, komunikatif, serta membekali mahasiswa untuk ke depan mampu mengikuti kompetisi.



0 comments:
Posting Komentar