PRESS
RELEASE
HMPS Ekonomi Syariah UIN Salatiga Gelar Podcast Bahas Daya Beli Masyarakat di Tengah Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Podcast
ini membahas berbagai isu ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya
mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok dan dampaknya terhadap daya beli
masyarakat Indonesia. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa kenaikan
harga dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu tingkat pendapatan masyarakat,
mekanisme harga yang terbentuk melalui permintaan dan penawaran, serta
ketersediaan pasokan barang di pasar. Selain itu, peningkatan impor, gangguan
rantai pasok, dan terbatasnya stok kebutuhan pokok turut menjadi faktor yang
memengaruhi kenaikan harga. Menurut narasumber, faktor pasokan merupakan
penyebab yang paling dominan. Kenaikan harga juga kerap terjadi pada
momen-momen tertentu, seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, Natal, dan awal
tahun ajaran baru ketika permintaan masyarakat meningkat.
Pada
sesi pembahasan mengenai daya beli masyarakat, dijelaskan bahwa dampak kenaikan
harga dirasakan secara berbeda oleh setiap kelompok ekonomi. Kelompok ekonomi
menengah dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memperoleh
bantuan sosial sebagaimana kelompok berpenghasilan rendah, namun juga belum
memiliki kondisi ekonomi yang mapan seperti kelompok berpenghasilan tinggi.
Sementara itu, sekitar 60 persen pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah
masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Meski demikian, daya beli
masyarakat tidak serta-merta menurun karena kebutuhan konsumsi tetap harus
dipenuhi dalam berbagai kondisi ekonomi.
Narasumber
juga menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap
kenaikan harga. Kelompok pekerja di sektor informal, seperti pengemudi ojek
daring dan pelaku usaha kecil, dinilai lebih rentan karena tidak memiliki
pendapatan tetap setiap bulan. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi salah
satu langkah penting agar masyarakat mampu mengelola pengeluaran secara
bijaksana, menyesuaikan pola konsumsi, serta lebih responsif dalam menghadapi
perubahan kondisi ekonomi.
Dalam
pembahasan mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga, narasumber mengingatkan
agar pendapatan tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi. Masyarakat
dianjurkan menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan maupun dana
cadangan. Mengacu pada rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 30
persen pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk tabungan, investasi, atau dana
darurat. Selain itu, investasi jangka panjang seperti emas, perak, maupun saham
dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjaga stabilitas keuangan di masa
depan.
Menutup
sesi podcast, narasumber menyampaikan harapan agar pemerintah mengutamakan
kebijakan fiskal yang tepat sebelum mengambil langkah defisit anggaran karena
defisit dapat memberikan dampak terhadap kenaikan harga. Pelaku usaha juga
diharapkan mampu terus berinovasi sehingga kualitas produk tetap terjaga
meskipun harga bahan baku meningkat, tanpa harus membebankan kenaikan harga
yang berlebihan kepada konsumen. Sementara itu, mahasiswa sebagai generasi muda
diharapkan mampu meningkatkan literasi keuangan yang kreatif, adaptif, dan
aplikatif sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang.
Melalui
kegiatan Podcast Disemi Terinovatif ini, diharapkan masyarakat, khususnya
mahasiswa, dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika
kenaikan harga kebutuhan pokok, kondisi daya beli masyarakat, serta pentingnya
pengelolaan keuangan yang bijaksana. Kegiatan ini juga diharapkan mampu
mendorong lahirnya masyarakat yang lebih adaptif, memiliki ketahanan finansial
yang baik, dan siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa depan.

0 comments:
Posting Komentar