(PRESS RELEASE) Kenaikan Harga Pertamax dan Pengaruhnya terhadap Stabilitas Ekonomi.

 

PRESS RELEASE 


Kenaikan Harga Pertamax dan Pengaruhnya terhadap Stabilitas Ekonomi


SALATIGA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga telah melaksanakan kegiatan Economic Discussion pada Minggu, 21 Juni 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertempat di Cikimoy, Salatiga. Kegiatan ini mengangkat tema "Kenaikan Harga Pertamax dan Pengaruhnya terhadap Stabilitas Ekonomi."

 

Diskusi dihadiri oleh seluruh pengurus internal HMPS Ekonomi Syariah dengan M. Agus Mizan, Koordinator Divisi Research and Education (RE), sebagai pemantik diskusi. Sebelum kegiatan dimulai, peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tim pro dan tim kontra, guna memperkaya sudut pandang dalam pembahasan isu.

 

Pada sesi pemaparan, Dafa, Koordinator Divisi HRD dari tim pro, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax pada 1 Juni 2026 merupakan bentuk penyesuaian harga setelah sebelumnya dipertahankan di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada harga minyak mentah internasional. Pendapat tersebut diperkuat oleh Marsa, Koordinator Divisi Advokesma, yang menyampaikan bahwa kenaikan harga Pertamax dipengaruhi oleh penyesuaian pasar terhadap meningkatnya harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik.

 

Menanggapi hal tersebut, Farouq, anggota Divisi Media Creative dari tim kontra, mempertanyakan alasan harga Pertamax yang masih tinggi meskipun harga minyak mentah dunia mulai mengalami penurunan. Pertanyaan tersebut memicu diskusi yang semakin aktif dan mendorong peserta untuk menyampaikan berbagai pandangan terkait kebijakan harga bahan bakar minyak.

 

Ica, anggota Divisi RE dari tim kontra, menyampaikan bahwa apabila pemerintah tidak mengambil langkah yang cepat dan tepat, kenaikan harga Pertamax berpotensi menimbulkan ketidak stabilan ekonomi. Ia juga menyoroti kemungkinan peralihan masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi. Menurutnya, peningkatan konsumsi BBM subsidi dapat menyebabkan pembengkakan anggaran subsidi dan menambah beban pengeluaran negara.


Sebagai tanggapan, Dafa mengusulkan agar subsidi BBM lebih tepat sasaran melalui pendataan masyarakat rentan, pembatasan volume pembelian, serta pemanfaatan teknologi QR Code untuk pemantauan distribusi. Selain itu, subsidi barang dapat dialihkan menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) guna menjaga daya beli masyarakat tanpa menimbulkan ketidaktepatan sasaran penerima manfaat.

 

Dalam diskusi juga muncul pertanyaan mengenai minimnya sosialisasi sebelum kebijakan kenaikan harga diberlakukan. Menanggapi hal tersebut, Rindu, anggota Divisi HRD, menyampaikan bahwa penyesuaian harga yang dilakukan pada malam hari bertujuan untuk menghindari aksi penimbunan BBM dan meminimalkan gejolak yang berpotensi terjadi di masyarakat.

 

Sementara itu, Lessy, anggota Divisi RE dari tim kontra, memaparkan beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat kenaikan harga Pertamax, di antaranya penurunan daya beli masyarakat, peningkatan inflasi, kenaikan biaya produksi usaha, serta risiko bertambahnya angka kemiskinan.

 

Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai argumentasi dan tanggapan dari peserta mengenai kebijakan harga BBM serta dampaknya terhadap perekonomian nasional. Melalui kegiatan Economic Discussion ini, HMPS Ekonomi Syariah berharap mahasiswa dapat memahami berbagai perspektif terkait isu ekonomi yang berkembang sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan solutif dalam menanggapi berbagai permasalahan ekonomi di masyarakat.


0 comments:

Posting Komentar